Umum

Penguatan Peran Keluarga terhadap Pendidikan Anak dalam Islam

anak-anak-ceria_20151103_060223Penguatan Peran Keluarga terhadap Pendidikan Anak dalam Islam

Kasus kekerasan anak semakin parah. Orangtua perlu menerapkan pendidikan karakter anak sejak usia dini salah satunya melalui penyuluhan atau sosialisasi organisasi-organisasi keislaman di sekolah.

Terjadi pergeseran pola orangtua dalam mendidik anak

Tanjungpinang_Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kehadiran seorang anak di tengah-tengah lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan titipan serta anugerah terindah dari tuhan yang maha kuasa yang wajib disyukuri dan dijaga selalu. Selain sebagai wujud buah cinta antara sepasang suami dan istri dalam hidup berumahtangga. Anak-anak juga merupakan generasi penerus dan tulang punggung bangsa di masa hadapan.

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus penghargaan terhadap anak-anak di Indonesia. Oleh pemerintah, setiap tanggal 23 Juli diperingatilah hari (hak-hak anak secara nasional), yang pada hakekatnya memiliki tujuan untuk mengajak sekaligus mengingatkan kepada seluruh para orangtua, masyarakat serta pemerintah guna menghentikan segala macam bentuk tindak-tanduk kekerasan terhadap anak, serta menghormati dan menghargai hak-hak anak untuk hidup, dan tumbuh dengan baik di dalam lingkungan keluarga, maupun masyarakat.

Namun, momentum tahunan yang bahkan diperingati oleh dunia internasional tersebut, seiring berjalannya waktu justru berbanding terbalik dengan kondisi kehidupan kita sehari-hari, khususnya dunia anak-anak Indonesia saat ini.

Sebagai suatu bukti nyata. Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berbagai prilaku menyimpang yang diperlihatkan oleh anak-anak (seusia remaja) dalam aspek hidup sosial dan bermasyarakat.

Salah satu contoh kecil bentuk kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak di Indonesia yang baru-baru ini terjadi di kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Seorang pelajar berumur 14 tahun nekat menusuk orangtua temannya dengan menggunakan senjata tajam (red_pisau) sebanyak 9 kali tusukan, Hanya ditenggarai permasalahan larangan si korban agar anaknya tidak berteman dengan pelaku yang masih berbau kencur tersebut. Parahnya lagi, pelaku bahkan sempat mencuri motor korban.

Akibat perbuatannya pelaku kini diamankan di kantor kepolisian sektor bukit bestari, polres tanjungpinang, dengan didampingi oleh komisi perlindungan perempuan dan anak daerah (KPPAD) provinsi kepri, untuk dilakukan tes kejiwaannya.

Menurut pihak kepolisian setempat, pelajar yang masih duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama ini juga pernah terlibat perkara yang sama di kota kelahirannya Depok ( Jawa Barat).

Alhasil kita sebagai warga negara, menelisik akar permasalahan yang terjadi, lalu siapa yang harus bertanggungjawab. Pendidikan orangtuakah, masyarakatkah atau pemerintah.

Semua komponen terkait diyakini memiliki andil besar dalam pembentukan pendidikan, karakter, serta prilaku anak.

Berangkat dari kasus di atas. Mohammad paisal, Ketua Komisi Perlindungan Perempuan & Anak Daerah (KPPAD) Provinsi kepulauan riau mengatakan. “Di era ini, pengaruh moderenisasi dan arus perkembangan zaman perlahan mulai membunuh karakter anak, terutama dalam dunia pendidikan serta kepribadian anak.”

“Saat ini telah terjadi pergeseran orangtua dalam mendidik anak, orangtua lebih cendrung cuek, dan kurang mengawasi pergaulan & kelakuan anak sehari-hari.

“Saat si anak meninggalkan shalat, orangtua hanya diam sahaja.”

“ketika anak keluyuran hingga larut malam ke luar rumah, orangtua jarang sekali untuk datang apalagi mencari si anak. Ungkapnya.”

Fenomena ini disebut Paisal, hingga hari ini masih melekat di sekitar lingkungan masyarakat kita. Khsususnya kaum pelajar (anak-anak), dirinya mencontohkan. Di tanjungpinang, kepulauan riau. Warnet hampir setiap hari dipenuhi para pelajar dan anak-anak di bawah umur, hingga ke tengah malam bahkan pagi hari. Secara kasat mata mayoritas dari mereka (pelajar) hanya ber-game-ria, membuka konten-konten yang berbau negatif, dan bukan rahasia umum pula jika mereka (pelajar) sudah menenggak minum-minuman keras & menjadi perokok aktif.

Pada ujungnya, hal-hal seperti ini berdampak negatif terhadap perkembangan pendidikan juga kepribadian anak. Banyak kejadian, ketika si anak tidak memiliki uang untuk menyewa warung internet,  merokok dan membeli minum-minuman keras, mereka lantas memberanikan diri melakukan aksi pencurian di kos-kosan, masjid dan sebagainya.

Dan pada akhirnya menjalar ke kasus-kasus kekerasan anak lainnya. Seperti pencabulan, pencurian, penganiayaan bahkan pembunuhan yang melibatkan anak-anak di bawah umur.

Namun, untuk memberantas penyakit yang sudah memasyarakat ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Selain orangtua sebagai pondasi utama penguat perkembangan pendidikan anak. Pemerintah juga dirasa ikut serta memainkan perannya.

Masih dikatakan Paisal. “Pemerintah dalam hal ini seharusnya dan berwenang tegas membatasi jam operasional warnet-warnet yang ada khususnya di Tanjungpinang. Upaya-upaya tersebut guna mengubah mental dan kebiasaan anak dari ketergantungan berlama-lama menghabiskan waktu di warnet, ketimbang belajar di rumah ataupun di sekolah.”

Peran keluarga terhadap pendidikan anak dalam perspektif Islam

Hasil wawancara bersama salah satu ustadz sekaligus anggota dewan dakwah islam di tanjungpinang Dedy sanjaya mengatakan dalam agama islam disebutnya. “Keluarga merupakan sekolah utama dalam memainkan peran terhadap pola perkembangan pendidikan anak sejak usia dini hingga dewasa, disamping lingkungan masyarakat, pemerintah serta sekolah.”

Pada pandangan islam, setidaknya ada 2 hal yang harus diketahui para orangtua dalam membangun pendidikan anak di kala usia dini.

Pertama adalah pendidikan pra lahir (sebelum dilahirkan). Saat berada di dalam kandungan, otak dan indera pendengaran anak sudah mulai berkembang, pada umumnya ia bisa merasakan apa yang ada di luar kehidupannya. dalam hal ini, seorang Ibu hendaknya memperbanyak ibadah, membiasakan diri membacakan dan mendengarkan ayat-ayat suci al-quran, guna merangsang pola pikir sang anak menjelang kehidupannya di dunia.

Kemudian pendidikan pasca (red_anak) dilahirkan. Pada fase inilah para orangtua dituntut ekstra dalam membangun sedini mungkin pendidikan, karakter, maupun perilaku anak menjelang ia dewasa. Pasalnya dalam lingkup usia dini ( 0-6 tahun) sang anak cenderung melihat, meniru serta mempraktekkan kejadian-kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian, selaku orangtua seyogyanya di usia dini (0-6 tahun), anak-anak juga sudah mulai diperkenalkan dengan pembelajaran agama seperti mengenal bacaan-bacaan asma Allah, mengajarkan ibadah shalat, mempraktekkan tata cara bersedekah, menanamkan norma-norma kesopanan dan akhlak mulia, termasuk berlaku lemah lembut terhadap sang anak.

Di samping pendidikan agama, penanaman pemahaman di bidang akademik juga perlu ditonjolkan. contohnya anak dikenali pada dunia membaca bacaan-bacaan yang edukatif dan menghibur, agar si anak terbiasa mencintai dan membaca buku secara berkelanjutan.

Di sisi lain misalnya, pada usia bersamaan orangtua juga dianjurkan untuk membantu anak dalam hal mengarahkan potensi yang ada pada dirinya, dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tanpa dipaksa atau dilakukan secara halus oleh orangtua.

Seperti pepatah mengatakan “anak terlahir bagai selembar kertas putih”. Dengan kata lain berhasil atau tidaknya pendidikan, karakter, dan perilaku anak di kemudian hari, tergantung bagaimana cara orangtua mendidiknya sejak usia dini hingga dewasa.

Sosialisasi Pendidikan Karakter anak oleh organisasi Islam menguatkan peran keluarga dalam mendidik anak

Penguatan pendidikan moral atau pendidikan karakter  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek,penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum tuntas.

Pendidikan karakter pula diartikan sebagai suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang (siswa) sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

Di tanjungpinang, kepulauan riau, sudah 3 tahun belakangan ini dijelaskan Dedy Sanjaya atau pria yang akrab disapa Ude ini mneyebut, organisasi-organisasi islam seperti dewan dakwah islam, front pembela islam, serta dewan masjid tanjungpinang telah menggelar program penyuluhan serta sosialisasi yang isinya merupakan pembangunan pendidikan karakter anak seperti etika, tingkah laku, serta psikologi anak di lingkungan sekolah & keluarga.

Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan setiap minggunya dan berorientasi ke sekolah sekolah-sekolah baik di tingkat SD, SMP sederajat, SMA sederajat se-kota tanjungpinang.

Hasilnya cukup mencengangkan, dalam pelatihan karakter anak yang digelar di salah satu hotel di tanjungpinang belum lama ini mendapati, dari 468 siswa se-kota tanjungpinang yang tergolong (bandel) di sekolahnya masing-masing yang dikirimkan untuk mengikuti sosialisasi tersebut.  hanya 26 anak atau pelajar yang belum bisa berubah ( laporan pihak sekolah).

Perubahan dimaksud yakni, diantaranya siswa yang awalnya sering menantang perkataan guru di sekolah, perlahan mencair menjadi anak-anak yang penurut, begitu juga terhadap orangtua di rumah.

survei lain yang dilakukan ialah terhadap 100 perokok yang terdiri dari pelajar (sd,sm,sma) yang dipilih secara acak (random) periode februari-maret 2016 lalu se-kota tanjungpinang membuktikan 70 orang diantaranya berhenti merokok, sementara 30 lainnya masih perlu pendalaman karakter. Dengan demikian dapat disimpulkan. Penyuluhan pendidikan karakter anak-anak di sekolah yang diprakarsai oleh organisasi-organisasi islam, berdampak signifikan terhadap pola perkembangan pendidikan, karakter serta perilaku anak.

“Pada akhirnya, orangtua harus giat mendukung sekaligus mendorong sedini mungkin buah hati mereka untuk aktif di berbagai kegiatan, penyuluhan ataupun sosialisasi yang berkaitan membangun pendidikan karakter anak. Baik yang digelar di sekolah, lingkungan masyarakat, terutama di lingkungan keluarga. “Tutup sanjaya.”

Ogen_ficomtv.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *